Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

20/04/15

PSIKOLOGI dalam ISLAM

PSIKOLOGI dalam ISLAM

Dr Syamsuddin Arif
(Peneliti INSISTS)




Sejarah keilmuan Islam yang gemilang mencatat tiga corak pendekatan dalam memahami jiwa manusia. Pertama, pendekatan Qurani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu, hidup merana dan mati menyesal, di akhirat masuk neraka), dan beberapa karakter jiwa (nafs): yang selalu menyuruh berbuat jahat (ammarah bis-su), yang senantiasa mengecam (al-lawwamah) dan yang tenang damai (al-mutmainnah). Perspektif ini diwakili oleh tokoh-tokoh semisal Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 1350). Dalam kitabnya ar-Ruh, misalnya, diterangkan bagaimana ruh menjalar di tubuh manusia yang memungkinkannya bergerak, merasa, dan berkehendak. Ruh orang mati itu wujud dan merasakan siksa di alam kubur sekalipun jasadnya hancur.
  
    Kedua, pendekatan Falsafi dimana pelbagai masalah jiwa dibahas menurut pandangan para filsuf Yunani kuno. Mazhab falsafi ini mulai berkembang pada abad ke-10 Masehi, menyusul penerjemahan karya-karya ilmuwan Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Para psikolog Muslim pada masa itu banyak dipengaruhi oleh teori-teori jiwa Plato dan Aristoteles. Tak mengherankan, sebab Aristoteles mengupas aneka persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan terperinci. Teori-teorinya tertuang dalam bukunya De Anima (tentang hakikat jiwa dan aneka ragam kekuatannya) dan Parva Naturalia (risalah-risalah pendek mengenai persepsi inderawi dan hubungannya dengan jiwa, daya hapal dan ingatan, hakikat tidur dan mimpi, firasat dan ramalan). Adapun Plato ialah filsuf yang pertama kali melontarkan teori tiga aspek jiwa manusia: rasional (berdaya pikir), animal (hewani), dan vegetatif (berdaya tumbuh). 

    Hampir semua filsuf Muslim yang menulis karya tentang jiwa bertolak dari pandangan Aristoteles. Mulai dari Miskawayh yang menulis kitab Tahdzib al-Akhlaq dan Abu Bakr ar-Razi pengarang kitab at-Thibb ar-Ruhani hingga Ibnu Rusyd dan Abu Barakat al-Baghdadi. Menurut mereka, jiwa manusia adalah penyebab kehidupan. Tanpa jiwa, manusia tak berarti apa-apa. Kecuali ar-Razi, semua filsuf percaya bahwa jiwa manusia itu tunggal dan sendiri. Karenanya mereka menolak teori transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang lain, seperti dalam kepercayaan agama tertentu. Dalam salah satu kitabnya, Ibnu Sina menegaskan pentingnya penyucian jiwa dengan ibadah seperti shalat dan puasa. Sebab, menurutnya, jiwa yang bersih akan mampu menangkap sinyal-sinyal dari alam ghaib yang dipancarkan melalui Akal Suci (al-‘aql al-qudsi). Kemampuan semacam inilah yang dimiliki oleh para nabi, tambahnya. Jiwa para nabi itu begitu bersih dan kuat sehingga mereka mampu menerima intuisi, ilham dan wahyu ilahi (Lihat: kitab an-Nafs, ed. Fazlur Rahman, hlm 248-50 dan Avicennas Psychology, hlm 36-7).  

    Ketiga ialah pendekatan Sufistik dimana penjelasan tentang jiwa manusia didasarkan pada pengalaman spiritual ahli-ahli tasawuf. Dibandingkan dengan psikologi para filsuf yang terkesan sangat teoritis, apa yang ditawarkan para sufi lebih praktis dan eksperimental. Termasuk dalam aliran ini kitab ar-Riyadhah wa Adab an-Nafs karya al-Hakim at-Tirmidzi (w. 898) dimana beliau terangkan kiat-kiat mendisiplinkan diri dan membentuk kepribadian luhur. Menurut Abu Thalib al-Makki (w. 996), jiwa manusia sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan yang baik, bersih, dan bergizi. Jiwa yang tidak cukup makan pasti lemah dan mudah sakit. Semua itu diterangkan beliau dalam kitab Qut al-Qulub (‘nutrisi hati).

    Tokoh penting lainnya ialah Imam al-Ghazali (w. 1111 M) yang menguraikan dengan sangat memukau aneka penyakit jiwa dan metode penyembuhannya. Penyakit yang diderita manusia ada dua jenis, ujarnya, fisik dan psikis. Kebanyakan kita sangat memperhatikan kesehatan tubuh tetapi jarang peduli dengan kesehatan jiwa. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit jiwa seperti egoisme, serakah, phobia, iri hati, depresi, waswas, dsb beliau jelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ihya Ulumiddin. (Lihat juga: Amber Haque, Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists, Journal of Religion and Health 43/4 [2004], hlm 357-77). 

    Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan menjual mutiara-mutiaranya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam.

24/03/15

Apa itu Selfie ?


SELFIE


Kata yang tidak asing. Hampir semua kita paham. Pernah melakukan malah. Foto sendiri. Diupload di Medsos sendiri. “Like” sendiri. Senyum-senyum sendiri. Bangga sendiri. Memuji sendiri. Aiih..!!

Ya, dunia memang sudah berubah. Selfie menjadi cara simpel untuk menyampaikan pesan tentang diri. Dengan selfie, pesan yang kompleks bisa disampaikan dengan mudah. Setidaknya, selfie akan membuat bangga. Membuat orang lain menjadi tahu, ini loh saya.. !

Yes..! Istilah selfie memang begitu populer sekarang. Hampir seluruh planet ini demen dengan yang namanya selfie, kecuali yang tidak... Dinegeri entah, hingga negeri ini. Sebut saja presiden JKW yang demen diajak selfie. Juga SBY, mantan presiden kita, yang pernah selfie dengan PM Malaysia.

Kejadian selfie paling heboh dilakukan presiden AS Barrack Obama. Bersama PM Inggris, David Cameron, dan PM Denmark, Helle Thorning Schmidt, saat prosesi pemakaman mantan Presiden Afsel, Nelson Mandela, awal Desember 2013 lalu. Kontroversi, tentu saja. Banyak kecaman. Ditengah kesedihan rakyat Afsel, mereka bersenang-senang denga selfie.

Demikian juga calon pewaris tahta Kerajaan Inggris. Dia berselfie dengan seorang gadis berumur 12 tahun, Madison Lambe, saat berkunjung ke Sandringham House. Bahkan Paus Fransiskus juga tak ketinggalan. Pada 2013 lalu, Paus melakukan selfie bersama emapat anak muda dari keuskupan Pazenza Italia di Gereja Basilica St. Peter, Vatikan.

Tak hanya di bumi, trend selfie juga berlaku di luar angkasa. Astronot Aki Hosida dari Japan Aerospace Exploration Agency, tahun 2012 melakukan selfie saat dia melakukan misi ke luar angkasa. Bahkan ada seorang perawat di sebuah RS di Barat berselfie dengan jenazah pasiennya. Akibatnya, ia di kecam dan konon dipecat.

Demikian juga banyak jamaah haji yang berselfie di depan Ka’bah. Ada pula yang berpura-pura sedang berdoa dengan baju ihram, lalu diupload. Tidak ketinggalan berselfie di gereja, vihara, pura, dan tempat-tempat unik lainnya..!

Apa akibat dari trend selfie ? Banyak..! Beberapa orang mengalami kecelakaan saat selfie. Berselfie di pinggir sungai, kemudian diterkam buaya. Entah itu benar atau tidak. Wallahu a’lam.

Ya, selfie kedepan akan menjadi ternd yag makin aduhai. Apalagi sekarang muncul Smartphone dengan kamera depan beresolusi tinggi. Biasanya, kamera depan lebih kecil dari kamera belakang. Taglinenya menyasar kenyamanan untuk berselfie ria. Ditambah pula tongkat narsis, atau disingkat “tongsis”. Intinya, selfie semakin menggila saat ini, maupun yang akan datang.

PSIKOLOGI SELFIE

Nah, bagaimana psikologi selfie itu..? Biasanya, selfie di hubungkan dengan narsis. Berfoto sendiri, kemudian di upload di Medsos sendiri. Lalu muncul perasaan-perasaan tertentu. Bangga, senang, puas, dan merasa gimana gitu deh. Tapi, kalau sehabis selfie terus disimpen dalam file sendiri, tidak di bahas disini.

Karena hubungannya narsis, hal yang pas dengan psikologi narsis. Dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder disebutkan narsis termasuk dalam gangguan mental (mental disorder). Banyak orang tidak sadar kalau narsis itu ternyata gangguan mental. Terus apa gejalanya..?

Pertama, selfie membuat pelakunya mementingkan diri sendiri. Melebih-lebihkan prestasi dan bakat. Ada harapan agar di kenal sebagai orang unggul. Istilahnya, pamer, ini loh gue hebat!!



Kedua, Nampak ingin menunjukkan kebanggaan dengan fantasinya. Bahasa sederhananya, ini saya berhasil, memiliki kekuatan, kepintaran, kecantikan atau kasih cinta yang ideal dengan pasangan. Orang bilang, sok mesra dengan pasangan..!!



Ketiga, bisa saja muncul PeDe bahwa dirinya sangat spesial. Seakan-akan bicara begini: ini lho saya bisa bergabung atau bergaul dengan orang-orang hebat, orang yang memiliki status tinggi.




Keempat, muncul keinginan mendapatkan pujian yang berlebih dari orang lain karena aksinya. Bahasa jawanya, pengendi alem. Kelima, berkurangnya rasa empati terhadap sesama. Misalnya, saat berselfie di depan hotel, pada saat yang sama orang lain dalam keaadaan miskin. Keenam, muncul dengan atau tanpa sengaja sifat arogan. Ketujuh, jika selfie dalam bentuk kesedihan, maka ingin menunjukkan pribadi yang emosiaonal dan lemah. Bahasa orang-orang, mellow dech..!

Terus bagaimana donk..? Ya, selfie bisa berdampak, bisa juga tidak. Ada yang serius dampaknya. Ada pula yang ringan. Bahkan ada yang tidak berdampak sama sekali. Tingkat dampaknya terpulang dari niat masing-masing. Kembali kepada tujuan. Juga kembali kepada tingkat kenekatan fantasi selfienya.

Bagaimana dengan selfie yang tidak berdampak ? Iya. Kalau selfie hanya sekedar fun, tidak bemaksud pamer, apalagi sombong, ya tidak berdampak. Tapi ingat, niat fun tidak selalu dipahami orang lain. Berdampak serius baik pada diri sendiri maupun orang lain jika dilakukan berlebihan.

Jadi, silahkan berselfie, tapi tatalah hati dengan baik. Ukur kewajarannya. Ukur pula dengan kacamata rasa orang lain. Solanya niat baik tidak selalu berbanding lurus dengan hal baik. Apalagi niatnya buruk. Wallahua’lam.
                                                **************** 

Di ambil dari majalah Bimas Islam 2014

04/08/13

Psikologi di Mata Kristi Poerwandari

Psikologi di Mata Kristi Poerwandari
Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana Pambudy ;  
Wartawan Kompas
KOMPAS, 04 Agustus 2013

Selama 17 tahun Dr E Kristi Poerwandari menekuni kerja kemanusiaan di antara tugas meneliti dan mengajarnya. Semangatnya terus dirawat agar api panggilannya terus menyala. Intervensi trauma dan penguatan psikososial, terutama untuk isu kekerasan, adalah jalan sunyi. Berat dan panjang.

”Yang bergerak dalam isu itu sangat sedikit,” ujar Kristi, di kantornya, siang, Juli 2013, ”Dana layanan psikologi secara umum makin sulit, apalagi untuk isu perempuan. Di Yayasan Pulih sudah dua tahun kami swadaya. Ada satu-dua filantropi, tetapi terbatas.”

Pada awal Juli lalu, International Council of Psychologist (ICP) memilih Kristi, salah satu pendiri Yayasan Pulih dan Ketua Program Studi Kajian Gender Program Pascasarjana (Interdisiplin) Universitas Indonesia itu, sebagai penerima penghargaan Bidang Riset dan Layanan Feminis tahun 2013.

”Mudah-mudahan penghargaan ini bisa menjadi motivator bagi teman-teman yang bergerak dalam isu perempuan dan psikologi,” ujarnya.

Hari itu tepat hari ulang tahun Kristi ke-50, atau sehari sebelum penghargaan itu diserahkan oleh Presiden ICP Ludwig Lowenstein, dalam konferensi ICP ke-71 tanggal 4-6 Juli 2013 di Jakarta. Tema tahun ini adalah ”Moving Towards Peaceful Intergroup Relationship and Reducing Stigma and Discrimination: A Worldview”.

Tantangan

Bagi Kristi, penghargaan hanyalah penanda dalam satu bagian dari perjalanannya. Namun, betapapun, momen itu berharga dalam situasi yang penuh tantangan.

Mengapa aspek psikologi belum mendapat perhatian?

Teori psikologi tidak membahas persoalan psikologi masyarakat miskin. Sudut pandangnya sangat kelas menengah. Psikolognya juga cenderung berpikir dalam kerangka kelas menengah. Menurutku, psikologi tidak banyak melakukan kritik terhadap diri sendiri. Penelitian di Barat kan menggunakan responden laki-laki, kelas menengah, dan kulit putih. Persoalan perempuan dengan kekerasan tak terlalu dibahas, juga psikologi masyarakat miskin.

Di Indonesia, psikologi sama dengan kedokteran jiwa, tidak dilihat penting dalam meningkatkan kualitas hidup. Jadi tidak diprioritaskan. Dalam piramida kesehatan mental, menurut penelitian di Barat, hanya 3 persen masyarakat butuh layanan psikologi klinis dan psikiatri. Psikologi cenderung dilihat hanya untuk itu. Saat ada masalah konflik atau bencana diperlukan penguatan yang bersifat massal. Namun, psikologi kurang siap karena psikolog seperti menunggu. Harusnya proaktif, kerja sama lintas bidang dengan semua pihak. Kami menyebut sebagai penguatan psikologi berbasis komunitas, seperti yang dikerjakan Pulih. Selama ini psikologi terlalu berbasis individu dan persoalan keluarga.

Bukankah semua persoalan di masyarakat terkait psikologi?
                                                                                                                              
Betul. Di Psikologi ada perdebatan sangat serius. Yang berpikir konvensional menganggap psikologi seperti ilmu yang sangat matematis. Di S-1 Psikologi UI, sulit bagi mahasiswa membuat skripsi kualitatif. Ada pandangan, yang kualitatif bukan ilmu. Sementara buatku, psikologi itu afektif, subyektifnya besar, sehingga wajib menjadi penelitian kualitatif. Bagaimana empati bisa dibangun tanpa metode kualitatif? Psikologi yang bermanfaat bagi masyarakat adalah yang bisa melihat dinamika intersubyektivitas pemahaman manusia. Bahwa ada gabungan kualitatif-kuantitatif, itu bukan persoalan.

Paradigma berbeda

Sebagai pekerja ilmu yang menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat secara bersungguh- sungguh, Kristi menghadapi arus besar di bidang pemikiran dan metodologi.

Ia tampaknya mewakili paradigma yang berbeda. Namun, dalam diskursus internasional juga semakin banyak ilmuwan menggoyang dominasi metodologi ataupun teori-teori psikologi arus utama, khususnya oleh kalangan feminis-teoris.

Psikologi memperlakukan secara umum teori yang dibangun dari hasil penelitian yang bias laki-laki, bias kelas, dan bias Barat. Penelitian Jeanne Block (1976) dari Universitas California di Berkeley juga menemukan bias jender dalam penelitian para psikolog mengenai agresivitas. Penemu teori-teori psikoanalisa, Sigmund Freud (1856-1939), hanya menggunakan perempuan penderita gangguan mental sebagai responden.

”Arus utama psikologi meyakini teori yang bersifat umum dan jurnal-jurnal ilmiah, dengan pendekatan penelitian yang cenderung positivistik. Sangat reduktif karena cenderung memecah gejala dalam elemen-elemen,” ujarnya.

”Pengetahuan dari jurnal ilmiah penting, tetapi bukan segalanya. Kepedulian dan pengetahuan dari lapangan sangat penting. Harusnya keduanya digabung, dimaknai dalam keseluruhan konteksnya. Kalaupun meneliti secara meluas, harus dipahami ini bukan fenomena pasar.”
Bisa lebih dijelaskan?

Kami sedang melakukan penelitian tentang sexual offending (penyerangan seksual) dan hal-hal terkait kekerasan seksual. Aku ingin belajar lebih banyak mengenai pelakunya. Bagaimana mungkin penelitian terhadap serangan terhadap seksualitas dilakukan secara kuantitatif? Namun, jurnal-jurnal luar semua meneliti secara kuantitatif. Datanya banyak, mereka sangat baik secara statistik.

Mereka punya kerja sama dengan semua correctional facilities atau lembaga pemasyarakatan dan meneliti 600 residivis. Fokusnya sangat sempit, misalnya apakah pelaku akan mengulang kembali tindak pidananya (residivisme). Peneliti menggunakan skala apa untuk mengecek sejauh mana skala itu meramalkan residivisme.

Karena bekerja untuk isu intervensi, aku ingin mendapatkan pemahaman lebih utuh tentang perilaku pelaku. Dalam logika psikologi, empati terhadap korban sangat penting. Kita harus membangun empati dari para pelaku kekerasan seksual terhadap korban agar dia tidak mengulangi tindakannya.

Penelitian kuantitatif menganggap empati tidak berhubungan langsung dengan residivisme. Lalu selesai, seolah-olah empati tidak penting. Simplistik, tetapi arus besarnya seperti itu. Kami ingin fokus pada hal-hal yang sangat kualitatif. Tuntutannya kan masuk jurnal internasional. Kami mau mencoba dengan metode campuran, kualitatif dan kuantitatif.”

Pengetahuan otentik

Meski pengambil keputusan di universitas bersikukuh dengan pendekatan kuantitatif, masyarakat psikologi bisa menerima metode kualitatif. ”Setelah bukuku tentang metode kualitatif terbit tahun 2007, aku sering diminta memberikan pelatihan kepada para dosen,” ungkapnya

Sebagai promotor program doktoral, apakah metode Anda tidak berbenturan dengan promotor lain?

Saya teringat pendekatan yang digunakan almarhum Pak Fuad Hasan. Beliau menggunakan pendekatan kualitatif dan menekankan pentingnya filsafat dasar keilmuan bagi mahasiswa. Metodologi penelitian adalah hal teknis. Jurnal ilmiah tetap penting, tetapi mahasiswa atau peneliti perlu dibantu melihat paradigma besar agar jurnal-jurnal itu tidak membunuh wawasan kita. Teknik bisa belakangan. Sekarang, jurnal- jurnal itu dipaksakan masuk ke dalam kerangka wawasan mahasiswa.

Lalu, apa tantangan memimpin Program Studi Kajian Gender?

Selain uang kuliahnya mahal, keilmuan lintas bidang tidak dilihat setara keilmiahannya. Program Kajian Gender belum masuk dalam kodifikasi program studi di bawah Pendidikan Tinggi Kemdikbud. Jadi ada beberapa mahasiswa kita setelah lulus, mengambil lagi S-2 dari bidang ilmu S-1-nya supaya bisa diakui sebagai angka kredit untuk kepangkatan. Untuk jadi profesor, ada syarat linieritas. Ini yang membuat rendahnya minat pada program studi ini.

Bagaimana Anda melihat dunia penelitian di Indonesia?

Sangat buruk kalau suatu bangsa tidak menghargai penelitian, apalagi tak ada upaya membangun pengetahuan secara otentik. Terjadi banyak pembohongan dan pembodohan. Jadi bukan hanya korupsi intelektual, tetapi juga pengikisan etika dan hati nurani. Kita bisa mengarah ke situ.


Tak mudah menjadi peneliti di Indonesia, tetapi setiap manusia punya tanggung jawab dan pilihan. Pasti akan ketemu jalannya....


blog design

Share this PostShare to FacebookShare to TwitterEmail ThisPin ThisShare on Google Plus